Mengapa Path Memilih Mengucap Selamat Tinggal?

Ini dia berita yang sedang hangat-hangatnya. Bagi Anda para pengguna Path, pasti merasa sedih dan mungkin kecewa karena ternyata salah swatu akun media sosial yang popular ini tidak melanjutkan layananannya. The Last Good Bye, begitu yang dikatakan oleh pihak Path.

(Pic. from Waspada Online)

Aplikasi yang dibuat pada 2010 di San Fransisco ini didirikan oleh Shawn Fanning, Dustin Mierau dan Dave Morin. Mulanya, Path dirancang untuk akun medsos pribadi, sebab akun ini membatasi hanya bisa terkoneksi dengan 150 orang, namun berkembang lebih dari itu. Polemik pun terjadi pada 2014 setelah Path mendapatkan dana investasi sejumlah US $25 Juta atau kira-kira sekitar 300-an miliar rupiah. Para investor itu antara lain adalah Bakrie Global Group, First Round Capital, Redpoint Venture Partners, Insight Venture Partners dan Greylock, juga Kleniner Perkins serta Index Venture. Namun di bawah naungan Daum Kakao, Path tidak mengalami kemajuan sejak 2015.

(Pic. from Axelute)

Para 18 September 2018 kemarin, Path dinyatakan ditutup, apa sih alasan yang sebenarnya? Banyak penggunanya sampa saat ini bernostalgia dengan akun medsos yang lebih banyak untuk curhat seperti buku diari ini. Bagi Anda yang aktif di Twitter, hal ini pun menjadi trending topic. Pengguna Path ramai-ramau mengucap terima kasih melalui twits mereka dengan tagar #terimakasihPath.

Path ingkar pada konsepnya

Ini salah satu alasan mengapa Path tidak melanjutkan layanannya bagi banyak pengguna setiap. Seperti dinyatakan oleh Nukman Luthfie, salah satu pakar pengamat media sosial, alasannya adalah karena Path telah mengingkari konsep awalnya. Kuota pertemanan yang semula hanya untuk 150 orang malah menjadi 500. Pasalnya memeng sebagian besar pengguna Path adalah dari Indonesia. Namun, Path tidak memperhitungkan bahwa orang berbondong-bondong lari ke Path karena ia menawarkan lingkaran pertemanan yang lebih kecil dibanding Tiwtter dan Facebook. Penggunanya menganggap bahwa Path lebih personal, karena mereka bisa memposting apapun dan menulis status apapun tanpa diketahui oleh orang-orang yang tidak menjadi temannya.

(Pic. from 37prime)

(Pic. from Antaranews.com)

Path tak berinovasi

Selain mengingkari konsep awalnya, inilah alasan kedua menurut Nukman seperti yang dilansir Tribun News, yaitu Path tidak berinovasi. Padahal bermunculan media-media sosial yang menawarkan fitur-firut yang semakin menarik seperti Snapchat dan Instagram. Seperti kita tahu, Instagram pun mulai mengadopsi fitur yang ada pada Snapchat yaitu dengan menambah Insta Story untuk memposting foto atau video real time dan akan hilang sendiri dalam waktu 24 jam. Path, jika dibandingkan media sosial lain, tidak memiliki keunggulan. Yah, Goodbye, PATH!

 

Blog Esoftdream
Esoftdream
Telp : (0274) 452155
No Tlp/Hp : +62 81226272827
Email : cro2@esoftdream.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *